Terselubung

Blog Terselubung

Film Indonesia Tidak Kalah Bagus

Terselubungi.com – Seiring berjalannya waktu, perfilman di Indonesia akhir-akhir ini sudah mulai jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pertengahan hingga akhir tahun 90-an. Pasalnya, film-film di Indonesia pada saat itu sempat mengalami vakum. Lalu pada era 2000-an sejumlah judul film nasional mulai muncul kembali ke tanah air, namun belum dapat dikategorikan dalam film yang berkualitas. Tetapi, bukan berarti anak bangsa tidak bisa membuktikan kualitas karya-karya yang dituangkan melalui film. Akhir-akhir ini beberapa film tanah air mampu membuktikan bahwa karya anak bangsa pantas dinikmati oleh masyarakat. Misalnya saja, Java Heat yang rilis perdana pada 18 April 2013 lalu mampu mendatangkan aktris dan aktor bukan hanya dari dalam negeri melainkan juga dari mancanegara. Tak tanggung-tanggung film yang disutradarai Conor Allyn ini menggaet Kellan Lutz yang namanya dikenal dalam film Hollywood ternama, yakni “Twilight Saga”. Juga beberapa pemain film papan atas dalam negeri seperti Ario Bayu, Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan.

Namun berdasarkan sumber data Cinema 21, perolehan jumlah penonton semakin rendah, meskipun semakin banyak film-film positif yang tayang di Indonesia. Hal ini bukanlah suatu fenomena yang baru saja terjadi, melainkan sudah menurun sejak empat tahun yang lalu. Menurut R. Moch. Pribadi, Direktur Utama PT. Anugrah Wirabuana Convex merangkap sebagai produser yang merupakan perusahaan perfilman rekanan pemerintah, sebenarnya beberapa film di Indonesia sudah dapat dikategorikan sebagai film yang berkualitas. Hanya saja jumlah penonton di tanah air yang masih sangat minim menjadi salah satu faktor kurangnya bentuk untuk mengapresiasikan karya anak bangsa, dalam hal ini adalah film. Pada tahun 2012 lalu tercatat hanya 4,2 juta atau 2 persen saja dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan total penonton pada tahun yang sama di Korea mencapai 195 juta, tercatat juga bahwa daftar film terlaris disana didominasi film-film lokal. R. Moch. Pribadi selanjutnya menambahkan, “Mengapa penikmat film dalam negeri masih tergolong rendah? Sebenarnya, kesadaran masyarakat untuk mencintai film dalam negeri itu sendiri yang masih tergolong rendah, lalu promosi film yang dilakukan belum sepenuhnya baik. Misalnya saja, masyarakat Indonesia lebih tertarik kepada film-film impor. Biasanya masyarakat kita rela menunggu-nunggu, mengantre, bahkan ada yang memesan tiket bioskop sebelum jadwal tayang film tersebut tiba untuk beberapa film asing. Beberapa film asing dapat mengemas promosi film nya secara baik dan menarik hingga masyarakat kurang sadar terhadap produksi film dalam negeri itu sendiri”.

Jika diingat kembali, beberapa film di negeri ini juga tak kalah saing dengan beberapa film asing yang bertandang ke Indonesia. Pada tahun 2002, film romantis Ada Apa dengan Cinta? garapan sutradara Rudy Soedjarwo ini berhasil menarik 2,7 juta pasang mata dan pendapatan mencapai 4 miliar. Film yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra tidak kalah romantis dengan film-film drama asing saat ini. Film yang bergenre romantis selanjutnya yang berhasil menarik sekitar 3,3 juta penonton adalah Eiffel I’m in Love (2003) yang dibintangi dengan aktris cantik Shandy Aulia dan Samuel Rizal. Disusul dengan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy, pada tahun 2008 yaitu Ayat-Ayat Cinta dengan jumlah mencapai 3,5 juta penonton. Film yang menayangkan pelajaran tentang cinta dan Islam mampu memikat hati jutaan pasang mata rakyat Indonesia. Film ini juga sangat fenomenal, mengingat bapak Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla bersama dengan istri dan beberapa menteri juga bapak Presiden SBY bersama keluarga menyempatkan diri untuk menonton film tersebut. Di tahun yang sama juga, film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel karangan Andrea Hirata mampu menyaingi jumlah penonton Ayat-Ayat Cinta, yaitu sebesar 4,6 juta penonton. Dengan suksesnya film tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia dapat menerima inovasi. Tiga tahun kemudian, The Raid menarik 1,8 juta penonton. Jumlah yang justru sangat berkurang, padahal film ini sendiri sanggup tembus hingga ke mancanegara. Kemudian Habibie & Ainun dapat mencetak angka 2,1 juta penonton dalam 14 hari saja, dan mencapai hingga total 4,3 juta penonton. Dan film 5 cm yang disutradarai Rizal Mantovani yang juga diangkat dari sebuah novel best seller karya Donny Dhirgantoro menceritakan tentang arti persahabatan yang sangat inspiratif meraup 2 juta penonton.

Beberapa judul film yang telah disebutkan hanyalah sebagian saja dari film nasional yang pantas kita apresiasi sebagai masyarakat Indonesia. Apresiasi masyarakat merupakan dukungan yang sangat berpengaruh untuk melahirkan perfilman nasional yang lebih baik. Maju terus perfilman Indonesia!
(Oleh: Annisa Aurelia Anindita)

loading...
Updated: Agustus 25, 2016 — 12:30 pm
Terselubungi.Com © 2014