Terselubung

Blog Terselubung

4 Orang Ini Menolak Sabda Raja Yogyakarta

sbda

Penolakan sabda Raja Yogyakarta itu atas sejumlah alasan jika Sabda Raja tersebut dinilai sudah menyalahi tatanan adat Kraton. Selain itu, Sabda Raja yang akan menjadikan putri sulungnya sebagai penerus Tahtanya ini dinilai menyalahi Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY tentang Gubernur Perempuan.

Penolakan tersebut juga hadir dari sejumlah orang yang tidak setuju dengan Sabda Raja tersebut. Seperti yang dilansir dari Merdeka.com, inilah dia 4 orang yang menolak Sabda Raja Yogyakarta.

1. Putri Raja Surakarta

loading...

11

Salah satu orang yang menolak dengan Sabda Raja Yogyakarta itu adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, biasa disapa Gusti Moeng sebagai putri Raja Surakarta, Paku Buwono XII . Penolakan yang disampaikan oleh Gusti Moeng ini terkait sabda raja ketika rencana Sultan mengubah perjanjian, antara pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan. Sri Sultan dinilai tidak paham hukum dan adat keraton .

“Itu sudah salah kaprah. perjanjian itu dibuat tahun kapan dan apa haknya Ngarso Dalem mau merevisi atau mengubah perjanjian leluhur. Itu sudah salah kaprah tentunya, yang bikin perjanjian siapa yang mengubah siapa,” ujar Gus Moeng.

2. Abdi Dalem

2

Seorang Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta bernama Kardi ini juga menolak dengan adanya Sabda Raja tersebut. Abdi Dalem , Kardi mengatakan jika dirinya akan mengembalikan surat Kekancingan setelah Sri Sultan Hamengku Bawono X itu melakukan penghapusan gelar Khalifatuloh . Dalam surat kekancingan tersebut berisi nama gelar yaitu Mas Wedana Nitikartya yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 31 Agustus 2011 lalu.

“Saya mengembalikan gelar ini karena saya kecewa dengan pergantian gelar Sultan,” katanya sebelum menyerahkan surat Kekancingan tersebut kepada GBPH Condroningrat di rumah GBPH Yudoningrat, Kamis (7/5).

3. Kiai Yogyakarta

3

Kiai Muhaimin sebagai tokoh agama Islam di Yogyakarta ini juga melakukan penolakan terhadap Sabda Raja yang dikeluarkan Sri Sultan Hamengku Bawono X karena dinilai engangkatan putri mahkota yang diprediksi akan menjadi raja, bukan semata-mata karena soal gender, tetapi juga soal suksesi dan kekuasaan.

“Bukan soal gender, saya ini mentor gender di pondok pesantren, jadi saya tahu. Tapi begini, kita ingin mendapatkan pemimpin yang terbaik, dan perempuan pun bisa mendapat peran yang sangat baik meskipun tidak menjadi pemimpin dan imam,” ujar Kiai Muhaimin.

4. Adik Sultan

yudha

Adik Sri Sultan, GBPH Yudoningrat juga angkat bicara tentang pengangkatan GKR Pembayun sebagai putri mahkota dengan gelar GKR Mangkubumi tersebut. GBPH Yudoningrat ini mengungkapkan sejumlah penolakan atas Sabda Raja tersebut. Bahkan Yudiningrat meminta kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menarik lagi Dawuh Raja tersebut. Sebab, menurutnya Sabda Raja itu bertentangan dengan Paugeran Keraton dan Khalifatullah.

Updated: Mei 16, 2015 — 2:56 pm
Terselubungi.Com © 2014